Sampang, Jawa Timur — Kekecewaan warga Desa Jeruk Porot mencapai puncaknya setelah 15 tahun Jalan Raya KH. Abubakar dibiarkan rusak tanpa perbaikan. Warga menyebut para wakil rakyat dari daerah pemilihan mereka “menghilang seperti asap begitu kursi empuk didapat.”
Keluhan warga menggema keras di lokasi:
> “Kami pilih mereka, tapi mereka tidak pernah memikirkan kami!” corruptionnews.my.id
Kemarahan warga terutama diarahkan kepada anggota DPRD Dapil I, yang dinilai hanya hadir ketika masa kampanye tiba. “Nama ada, kursi ada, fasilitas ada — tapi perjuangannya tidak ada. Nama mereka panjang, jabatannya keren, tapi perjuangannya tidak pernah kelihatan,” sindir salah satu warga. corruptionnews.my.id
“Wakil Rakyat atau Wakil Baliho?”
Dalam nada tajam, warga menuding bahwa keberadaan legislator hanya terasa saat kampanye—dengan baliho, senyum lebar, dan janji perbaikan infrastruktur.
> “Kami tidak butuh wakil rakyat yang hanya hadir di baliho!”
Setelah terpilih, kata warga, yang tersisa hanyalah foto-foto itu sementara perjuangan untuk perbaikan jalan tak pernah terlihat.
> “Setelah duduk, yang duduk itu hanya mereka — bukan harapan rakyat,” kata warga lain.
Jalan Rusak 15 Tahun: Dari Kelalaian Menjadi Pengabaian
Warga menyebut kerusakan jalan bukan lagi sekadar masalah fisik, tetapi simbol dari rapuhnya komitmen pemerintah terhadap rakyat.
Lubang-lubang besar di jalan dianggap mencerminkan kosongnya komitmen. Genangan air disamakan dengan genangan janji-janji yang menguap. Jalan bergelombang menjadi cerminan prioritas pemerintah yang dinilai semakin tak jelas.
> “Janji mereka mulus waktu kampanye. Jalan kami mulus? Tidak pernah!”
Warga Memperbaiki Jalan Sendiri: “Kami yang Bekerja, Mereka yang Menguap!”
Kemarahan semakin memuncak ketika warga harus bergotong royong memperbaiki jalan dengan dana dan tenaga sendiri.
“Kami siang dan malam gotong royong, kami keluarkan dana, kami kerja di panas terik. Lalu wakil rakyat buat apa? Duduk, rapat, dan lupa siapa yang memilih mereka?”
Menurut warga, aksi swadaya ini adalah bukti nyata lemahnya perhatian pemerintah dan DPRD terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Bhaskara Indonesia Maju: “Ini Keterlaluan”
Tokoh Bhaskara Indonesia Maju, Syaifuddin, ikut menyoroti persoalan tersebut.
“Ini bukan sekadar buruk. Ini keterlaluan. Pemerintah dan DPRD seharusnya malu — warga sampai memperbaiki jalan sendiri karena mereka tidak bergerak sedikit pun.”
Ia menegaskan bahwa suara masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama wakil rakyat.
“Kalau jalan utama saja tidak diperjuangkan, lalu apa gunanya duduk sebagai wakil rakyat?”
Warga Menggugat Janji Politik: “Cukup! Jangan Bodohi Kami!”
Warga secara terbuka menyatakan tak lagi percaya pada janji politik tanpa bukti. Dampak jalan rusak disebut sangat luas:
- petani rugi,
- kendaraan rusak,
- biaya hidup meningkat,
- akses sekolah terganggu,
- ekonomi desa terhambat.
“Percuma punya wakil rakyat kalau jalan menuju rumah kami saja tidak pernah dipikirkan. Wakil rakyat atau wakil janji?” kata salah satu warga.
Kepercayaan Publik Jatuh ke Titik Nol
Selama 15 tahun, warga merasa hanya dibanjiri janji tanpa realisasi.
> “Kami beri mereka kursi, mereka beri kami lubang. Enak sekali,” ujar seorang warga dengan nada sinis.
Hingga berita ini disusun, baik pemerintah maupun legislator dapil terkait belum memberikan tanggapan.
Bagi warga, diamnya wakil rakyat terasa jauh lebih menyakitkan dibanding janji yang tak ditepati.
Sumber Artikel : 15 Tahun Jalan Rusak, Wakil Rakyat Cuma Jadi Poster? Warga Jeruk Porot Meledak: “Kami yang Pilih, Kami yang Ditinggal!” – corruptionnews.my.id
